Anak Indigo

 

Ilustrasi anak indigo. Sumber: http://www.spiritscienceandmetaphysics.com/11-traits-of-indigo-children/(Bagian 1/4)

Justin lahir pada tahun 1980 dan menunjukkan perilaku klasik anak indigo sepanjang hidupnya. Justin ‘terlahir mengetahui’. Justin dibesarkan oleh ibu sebagai orangtua tunggal. Ketika ia berusia 3 tahun, ibunya mulai mencoba berkencan dengan beberapa pria dan para pria yang akan mengencani ibunya selalu mencoba mengambil hati Justin dengan bersikap ramah kepadanya.

Dengan cara tertentu, Justin dapat mengetahui ketulusan hati yang sebenarnya dari setiap pria yang mengencani ibunya. Mereka mencoba berpura-pura ramah kepadanya agar dapat mendekati ibunya. Suatu ketika Justin berkata kepada ibunya: ‘Ibu, kamu adalah surat dan aku adalah amplopnya.’ Dengan muka bingung ibu bertanya apa yang dimaksud oleh Justin. Penjelasannya adalah: ‘Setiap orang merobek amplop untuk membaca surat –dan kemudian mereka membuang amplopnya.’ Perkataan tersebut telah menyentuh hati ibu dan membawa tangisan di mata ibu. Persepsi Justin tersebut kemudian mengubah kebiasaan berkencan ibu.

                                                             (dalam Carrol & Tober, 2001)

Ketika kita berhadapan dengan seorang anak, maka kita membayangkan seorang anak yang tidak berdaya dengan keluguan pemikirannya. Namun tidak demikian halnya pada anak indigo. Uraian di atas memberikan salah satu gambaran mengenai anak indigo. Anak indigo merupakan fenomena yang relatif baru di masyarakat. Fenomena ini banyak ditemukan pada anak-anak yang lahir setelah tahun 1980-an. Istilah indigo ini pertama kali dipublikasikan oleh Nancy Tappe pada tahun 1982 dalam bukunya Understanding Your Life Through Color. Karakteristik anak indigo sangatlah unik, dikaitkan dengan warna aura yang ditampilkannya. Secara fisik mereka adalah anak-anak, namun dengan suatu pembawaan batin yang bijaksana dan “tua.” Mereka sangat aktif, kreatif dan memiliki pemikiran yang berbeda.

Seringkali orangtua sulit memahami apa yang terjadi pada anak mereka dan mencoba mengabaikannya. Namun perlakuan orangtua yang keliru pada akhirnya menyebabkan anak indigo berkembang menjadi anak yang negatif dan pemberontak.

Tertarik? Silakan baca selengkapnya

The Chameleon Student

StudentsYaitu siswa yang suka berubah-ubah. 

Siswa yang suka berubah-ubah adalah tipe anak yang paling sulit. Perubahan yang terjadi dalam diri anak menyebabkan sepertinya terdapat lebih dari satu anak dalam dirinya.

Siswa tipe ini, seperti halnya bunglon yang mangadaptasi warna kulitnya dengaan keadaan alam, beradaptasi dengan tuntutan guru dan orang tua dengan harapan berhasil di kelas dengan usaha yang seminimal mungkin.

Siswa bunglon, akan membaca karakteristik guru dan orang tua dan kemudian beradaptasi dengan cara mereka mendidik. Terhadap guru yang memiliki keteraturan dan disiplin dalam menjalankan kelasnya, siswa bunglon akan bersikap konsisten dalam mengerjakan tugasnya dan dengan demikian berhasil dalam pelajaran tersebut.

Demikian juga dalam menghadapi orang tua yang konsisten dan tegas, anak akan bersikap patuh. Akan tetapi, terhadap guru yang tidak terorganisasi dengan baik dan tidak konsisten dalam memberikan tugas, ia akan mengeluarkan upaya yang kecil dalam mengerjakan tugas-tugasnya dan bergantung pada teman sekelasnya sehingga kemudian, nilai yang dicapai dalam pelajaran menjadi rendah.

Dalam menghadapi orang tua yang tidak tegas, anak akan mengambil kesempatan dan mencoba untuk melarikan diri dari situasi.Dapat disimpulkan, dalam lingkungan yang otoritatif dimana terdapat kontrol sepenuhnya dari guru atau orang tua, siswa bunglon akan ikut teratur dalam belajarnya dan mengeluarkan upaya yang maksimal untuk dapat berhasil. Akan tetapi dalam lingkungan yang bebas (laissez-faire) dimana tidak ada kontrol dari guru atau orang tua, siswa akan mengeluarkan upaya yang seminimal mungkin dan  menunjukkan tingkah laku yang tidak baik.

Dengan demikian, setelah mengetahui karakteristik siswa bunglon, maka yang yang harus dilakukan untuk menghadapinya adalah, mengantisipasi celah (jadwal yang tidak jelas, guru yang tidak terorganisasi dengan baik) dan membuat rencana bagi siswa sehingga tidak terjadi manipulasi. Mengecek perkembangan anak melalui laporan bulanan dan selalu berkomunikasi dengan guru adalah salah satu dari beberapa cara untuk mengisi celah yang ada.

The If-Then Student

StudentsYaitu siswa yang suka menunda pekerjaan.

Tipe ini adalah tipe yang paling umum dari siswa yang berprestasi rendah. Schaefer & Millman (1981), menjelaskan bahwa banyak siswa menggunakan waktu mereka secara tidak efesien sehingga orang tua banyak mengeluhkan bahwa anak mereka suka menunda-nunda pekerjaan (procrastinate), membuang-buang waktu (dawdle), atau malas (lazy).

Definisi mereka yang sesuai dengan karakteristik siswa if-then, adalah suka menunda.Lebih jauh definisi yang mereka berikan mengenai siswa yang suka menunda adalah secara sengaja dan terbiasa menunda sesuatu yang seharusnya dikerjakan.

Pada umumnya, anak dengan tipe ini memiliki karakteristik:

  • Memiliki tingkah laku yang baik di kelas
  • Jika menghadapi tugas yang menarik, akan diselesaikan tepat waktu
  • Jika tugas terlalu menantang atau membosankan, dalam pengerjaannya akan memakan waktu yang lama
  • Cenderung melamun atau melakukan hobinya sendiri
  • Memiliki prinsip bahwa hari ini adalah hari ini, hari esok tidak usah dipikirkan sekarang dan hanya melakukan sesuatu jika hal tersebut penting bagi dirinya. Jika tidak, maka ia akan menundanya.

Tertarik? Silakan baca selengkapnya