The If-Then Student

StudentsYaitu siswa yang suka menunda pekerjaan.

Tipe ini adalah tipe yang paling umum dari siswa yang berprestasi rendah. Schaefer & Millman (1981), menjelaskan bahwa banyak siswa menggunakan waktu mereka secara tidak efesien sehingga orang tua banyak mengeluhkan bahwa anak mereka suka menunda-nunda pekerjaan (procrastinate), membuang-buang waktu (dawdle), atau malas (lazy).

Definisi mereka yang sesuai dengan karakteristik siswa if-then, adalah suka menunda.Lebih jauh definisi yang mereka berikan mengenai siswa yang suka menunda adalah secara sengaja dan terbiasa menunda sesuatu yang seharusnya dikerjakan.

Pada umumnya, anak dengan tipe ini memiliki karakteristik:

  • Memiliki tingkah laku yang baik di kelas
  • Jika menghadapi tugas yang menarik, akan diselesaikan tepat waktu
  • Jika tugas terlalu menantang atau membosankan, dalam pengerjaannya akan memakan waktu yang lama
  • Cenderung melamun atau melakukan hobinya sendiri
  • Memiliki prinsip bahwa hari ini adalah hari ini, hari esok tidak usah dipikirkan sekarang dan hanya melakukan sesuatu jika hal tersebut penting bagi dirinya. Jika tidak, maka ia akan menundanya.

Kesalahan orang tua dalam menghadapi anak tipe ini adalah upaya mereka mencoba untuk memberi alasan bagi hal-hal yang tidak masuk akal. Mereka memberikan hukuman-hukuman yang tidak mengena pada anak.

Hal yang seharusnya dilakukan oleh orang tua adalah mengubah taktik untuk dapat membawa anak pada jalur akademis yang tepat. Orang tua disarankan untuk memberikan konsekuensi yang lebih mengena pada diri anak. Misalkan, jika anak tidak menyelesaikan tugasnya, maka orang tua melarang anak untuk melakukan sesuatu yang ia sukai.  Caranya adalah mendapatkan penguat (reinforcer) eksternal (the then) yang dapat memotivasi mereka untuk menyelesaikan tugas yang diberikan (the if).

Konsekuensi yang dimaksudkan disini adalah konsekuensi-konsekuensi natural yang terjadi dalam hidup karena suka atau tidak, hidup penuh dengan konsekuensi-konsekuensi dari tingkah laku. Mengajarkan anak hubungan ‘jika-maka’, sebaiknya dilakukan sejak dini.  Dengan harapan, hubungan ‘jika-maka’ tersebut akan terinternalisasi dalam diri anak.

Penulis:

♠ Doralina ♠ Vitriani Sumarlis ♠ Monika Iyana Sitepu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s