Membentuk harapan positif pada anak

Anak-anak sering merasa tertekan dengan harapan orangtuanya.  Orangtua seringkali tidak bisa memahami bahwa anak mereka ternyata salah paham akan harapan mereka.  Seperti ada jarak antara harapan yang dikatakan orangtua dengan penerimaan anak.  Dalam hal ini, ditekankan pentingnya klarifikasi yang tepat atas harapan orangtua.

Harapan orangtua tentang nilai-nilai moral, perilaku sosial, tanggung jawab pekerjaan sekolah pada anak harus dinyatakan dengan jelas.  Seringkali orangtua berasumsi bahwa anaknya dapat mengetahui apa yang diharapkannya tanpa perlu penjelasan yang eksplisit.  Tetapi, sebaliknya ada orangtua yang terlalu banyak bicara tentang harapannya sehingga menimbulkan perdebatan yang terus menerus.

Pengharapan yang terlalu banyak (atau terlalu sedikit) dapat membuat salah paham antara orangtua dan anak.

Apabila harapan tidak dinyatakan secara jelas, anak hanya dapat berasumsi bahwa suatu perilaku yang mendapat pujian berarti merupakan perilaku yang memang diharapkan, sedangkan perilaku yang mendapat hukuman adalah perilaku yang mengecewakan (tidak diharapkan) orangtua.  Pujian dan hukuman untuk perilaku orang lain (teman/saudara) juga akan dipersepsikan sebagai bentuk harapan orangtua terhadap mereka.  Anak-anak juga dapat menjadi bingung dan akhirnya percaya bahwa harapan yang mereka miliki adalah juga harapan orangtua mereka. Jadi, ketika suatu saat mereka kecewa akan prestasi mereka, anak-anak merasa bahwa mereka tidak dapat memenuhi harapan orangtuanya. Berikut ini adalah salah satu contohnya:

Tertarik? Silakan baca selengkapnya

Jika anak bosan sekolah….

book-15584_1280

Bosan merupakan keluhan yang paling sering dilontarkan anak-anak karena tidak suka pada kegiatan sekolah atau pelajaran tertentu. Anak kemudian ngambek tidak mau sekolah atau menjadi gembira di sekolah. Tidak mudah memang untuk menanganinya.

Seringkali orang tua dan guru tidak paham bahwa “bosan” bisa memiliki arti berbeda pada anak yang berbeda.

Bosan bisa berarti :

  • Tidak menantang atau justru terlalu banyak tantangan.
  • Harus duduk diam terlalu lama atau terlalu sedikit aktivitas yang bisa dilakukan.
  • Terlalu banyak tugas menulis atau terlalu banyak tugas membaca.
  • Tugas sekolah melulu, tanpa kegiatan atau humor atau penyaluran kreativitas.
  • Latihan (drill work) yang bertujuan untuk membantu anak mengingat pelajarn.
  • Sekolah jadi membosankan bagi anak yang merasa harus mengorbankan waktu ngobrol dengan temannya.
  • “tidak relevan”, yaitu tugas-tugas sekolah yang diyakini oleh para remaja tidak berguna untuk kehidupannya dan tujuan-tujuan yang ingin dicapainya.
  • Pelajaran yang disampaikan guru tidak menarik seperti acara-acara atau program di TV.
  • Yang paling sering, bosan digunakan untuk alasan tidak mengerjakan sesuatu yang ditakutkan tidak akan dapat diselesaikan dengan baik.

Tertarik? Silakan baca selengkapnya

Gaya belajar anak dan strateginya

LEARNING STYLES AND STRATEGIES

(Bagian 4/4)

SEQUENTIAL AND GLOBAL LEARNERS

(Gaya belajar sekuensial dan global)

  • Sequential learners cenderung memahami sesuatu dalam tahapan yang linier, dimana setiap tahap mengikuti logika dari tahap sebelumnya. Global learners cenderung untuk belajar dengan melakukan lompatan –lompatan, menyerap materi secara random tanpa melihat hubungannya dan memahami keseluruhannya.
  • Sequential learners cenderung untuk mengikuti pola yang masuk akal dan secara bertahap melakukan pemecahan masalah; global learners mungkin dapat memecahklan masalah yang kompleks secara cepat atau menyatukan sesuatu hal dalam car yang baru ketika mereka dapat melihat gambaran keseluruhannya, tetapi mungkin mengalami kesulitan dalam menjelaskan caranya tersebut.

Sequential learners mungkin tidak memahami materi secara keseluruhan tetapi mereka dapat memecahkan suatu masalah (seperti mengerjakan PR atau lulus ujian) sebab apa yang mereka pahami dapat dihubungkan secara logika.

Seseorang dengan tipe global learners yang dominan dan sangat kurang dalam pemikiran sekuensial kemungkinan akan mengalami kesulitan sampai mereka mempunyai gambaran besarnya.  Bahkan setelah mempunyai gambaran keseluruhan pun mereka mungkin bingung dengan detil dari subjek tersebut, sementara sequential learners mungkin mengetahui banyak tentang aspek spesifij suatu materi tetapi mengalami kesulitan untuk menghubungkannya dengan aspek lain dalam materi yang sama atau yang berbeda.

Tertarik? Silakan baca selengkapnya