The Rebellious Student

StudentsThe Rebellious Student atau disebut juga siswa penentang. Siswa yang menentang senang melakukan tindakan yang berlawanan dari yang diminta oleh orangtua atau guru. Mereka cukup pandai untuk memahami apa yang diinginkan orangtua maupun guru dan mencari cara bagaimana melawannya. Orangtua menggambarkan anak yang berada dalam kelompok ini sebagai anak yang pandai, keras kepala dan memutuskan untuk menghindari atau tidak mematuhi aturan-aturan.

Siswa penentang sangat bergairah untuk melakukan hal-hal tertentu hanya untuk membuat kedua orangtua atau guru mereka jengkel. Kadang-kadang mereka benar-benar berusaha untuk menjadi patuh tetapi mereka tidak dapat menahan perasaan untuk melakukan pertentangan. Mereka berpikir bahwa mereka lah yang menetapkan aturan-aturan dan mereka dengan tenangnya menerima segala bentuk hukuman-hukuman yang diberikan untuk menunjukkan pada guru atau orangtua bahwa mereka tidak dapat dipaksa untuk melakukan sesuatu, bahkan bila mereka harus berhadapan dengan hal-hal yang diminatinya.  Tampaknya karakteristik siswa penentang ini berhubungan dengan faktor genetik, yaitu dalam menentukan karakter keras kepala yang ekstrim.

Dalam menangani siswa dengan karakteristik penentang, orangtua maupun guru perlu menetapkan batasan-batasan dan arahan-arahan. Mungkin akan terjadi percekcokan ketika batasan-batasan tersebut diterapkan pertama kalinya, namun waktu akan mengubah perilaku mereka selama mereka merasa mendapatkan batasan yang cukup adil. Caranya adalah dengan membiarkan mereka merasakan bahwa mereka memiliki suatu pilihan terhadap hasil yang akan didapat. Batasan-batasan dan konsekuensi yang ditetapkan harus konsisten baik di sekolah maupun di rumah. Pemberian hukuman tidak akan bermanfaat karena hanya akan membuat perilaku yang tidak tepat terus berlanjut bahkan memperkuat perilaku tersebut.

Siswa yang penentang ini akan berubah ketika sekali mereka melihat bahwa mereka dapat mengontrol lingkungan dengan perilaku yang tepat, mereka akan cenderung menjadi lebih patuh ingin mengikuti program yang diberikan. Kecenderungan mereka untuk menjadi keras kepala mungkin akan menetap, tetapi mereka belajar memperhalus perilaku mereka untuk mengontrol lingkungan dengan sikap yang lebih positif.

The Here Today Gone Tomorrow Student

StudentsAnak yang tergolong dalam kelompok ini adalah mereka yang sering membolos sekolah. Menurut Schaefer & MIllman (1981), anak yang suka membolos adalah mereka yang berusia 6 – 17 tahun, yang mengabsensikan dirinya dari sekolah tanpa alasan resmi dan izin orangtua atau sekolah. Peters (2000) menggambarkan, mereka menghabiskan jam-jam belajar mereka di sekolah dengan berkumpul bersama teman-temannya di tempat lain, misalnya di rumah salah seorang teman yang dekat dengan sekolah dan kedua orangtuanya bekerja, atau pergi bermain bersama-sama ke tempat yang menyenangkan mereka.

Orangtua tidak mengetahui ketidakhadiran mereka di sekolah karena anak biasanya sudah mengatur strategi agar orangtua tidak mengetahui ketidakhadiran mereka. Misalnya, mereka menunggu kendaraan orangtua mereka menghilang setelah menurunkan mereka di gerbang sekolah, baru kemudian berkumpul dengan teman-teman lainnya yang akan membolos. Ketika guru berusaha untuk menyampaikan pesan kepada orangtua mengenai ketidakhadiran mereka melalui mesin penjawab telepon atau surat pemberitahuan, anak-anak ini pun berusaha untuk menghilangkan pesan-pesan tersebut sebelum kedua orangtua mereka mengetahui. Umumnya permasalahan ini terjadi pada anak-anak di tingkat sekolah lanjutan pertama dan kedua orangtua mereka bekerja. Permasalahan ini dapat menjadi suatu kebiasaan, khususnya pada anak-anak di tingkat sekolah lanjutan atas.

Schaefer & Millman (1981) menyebutkan beberapa alasan mengapa seorang anak suka membolos yaitu:

  1. Ketidakjelasan sikap orangtua terhadap sekolah.
  2. Anak mengalami kesulitan dengan tugas-tugas sekolahnya dan membuat mereka cemas terhadap sekolah. Kondisi tersebut terkadang juga berakibat pada penerimaan teman-teman sekelas terhadap anak.
  3. Anak-anak tertentu terlalu pandai di kelasnya sehingga kurang mendapatkan tantangan dalam belajar.
  4. Merasa khawatir dengan kekerasan di sekolah seperti adanya narkoba atau pengalaman-pengalaman lain.

Untuk mengatasi permasalahan membolos ini, Peters (2000) orangtua dan pihak sekolah harus menjalin komunikasi setiap hari untuk memastikan kehadiran anak di sekolah. Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah dengan membuat lembar harian dimana semua guru yang mengajar pada hari tersebut harus membubuhkan tanda tangan mereka bila anak hadir saat mereka mengajar. Orangtua akan diberikan salinan tanda tangan guru tersebut dan bila mereka melihat ada kecurigaan pada lembar harian anak, orangtua dapat menghubungi pihak sekolah keesokan harinya, memeriksa kembali bahwa anak mereka telah hadir di sekolah dan tanda tangan yang tertera pada lembar harian adalah asli.

Schaefer & Millman (1981) menyebutkan beberapa cara lain yang dapat dilakukan oleh orangtua adalah dengan menunjukkan ketidaksetujuan sikap mereka terhadap perilaku membolos. Akan menjadi lebih baik bila orangtua juga  mencoba untuk memahami anak dengan mengetahui latar belakang mereka membolos serta memberikan insentif yang dapat memacu anak untuk hadir di sekolah.

The Manipulative Student

StudentsSiswa yang suka memanipulasi, dengan sengaja menghindar untuk melakukan tugas-tugasnya. Mereka pun seolah-olah telah siap dengan jawaban-jawaban yang dapat dipercaya setiap harinya mengenai alasan mengapa mereka tidak mengerjakan pekerjaan rumah atau mengerjakan tugas dalam jumlah yang lebih sedikit. Siswa yang manipulatif ini berpikir bahwa mereka harus bermain menjadi detektif untuk dapat memperbaharui alasan-alasan mereka. Bahkan siswa dengan tipe ini tidak segan-segan untuk mengubah nilai rapor mereka untuk nilai yang jelek.

Siswa yang manipulatif menikmati usaha-usaha manipulatif yang mereka lakukan dan merasa bangga telah melakukannya. Mereka merasa telah mengalahkan sistem sekolah, mengerjakan tugas sesedikit mungkin. Tujuan mereka datang ke sekolah adalah untuk bersosialisasi di kelas dan meremehkan tugas-tugas akademik. Mereka berpikir, tugas-tugas sekolah tidak memberikan keuntungan positif bagi mereka dan hanya siswa lugu yang mengerjakan tugas-tugas sekolahnya.

Siswa dengan karakteristik ini, tidak menyadari dampak dari perilaku mereka untuk jangka panjang. Mereka dapat menjadi siswa yang “kalah” pada masa-masa yang akan datang karena pengetahuan mereka tidak bertambah seperti teman-teman sekelasnya dan mungkin akan memiliki masalah yang besar untuk dapat lulus dari tes kompetensi di tingkat lanjutan atas.

Yang harus dilakukan oleh siswa manipulatif untuk mengejar ketertinggalan mereka karena kebiasaan belajar yang buruk adalah dengan mengikuti tutorial dan kelas malam. Orangtua juga diharapkan lebih berperan untuk memeriksa tugas-tugas harian anak dan memastikan bahwa mereka menyelesaikan tugas-tugas sekolah mereka sendiri.