The Here Today Gone Tomorrow Student

StudentsAnak yang tergolong dalam kelompok ini adalah mereka yang sering membolos sekolah. Menurut Schaefer & MIllman (1981), anak yang suka membolos adalah mereka yang berusia 6 – 17 tahun, yang mengabsensikan dirinya dari sekolah tanpa alasan resmi dan izin orangtua atau sekolah. Peters (2000) menggambarkan, mereka menghabiskan jam-jam belajar mereka di sekolah dengan berkumpul bersama teman-temannya di tempat lain, misalnya di rumah salah seorang teman yang dekat dengan sekolah dan kedua orangtuanya bekerja, atau pergi bermain bersama-sama ke tempat yang menyenangkan mereka.

Orangtua tidak mengetahui ketidakhadiran mereka di sekolah karena anak biasanya sudah mengatur strategi agar orangtua tidak mengetahui ketidakhadiran mereka. Misalnya, mereka menunggu kendaraan orangtua mereka menghilang setelah menurunkan mereka di gerbang sekolah, baru kemudian berkumpul dengan teman-teman lainnya yang akan membolos. Ketika guru berusaha untuk menyampaikan pesan kepada orangtua mengenai ketidakhadiran mereka melalui mesin penjawab telepon atau surat pemberitahuan, anak-anak ini pun berusaha untuk menghilangkan pesan-pesan tersebut sebelum kedua orangtua mereka mengetahui. Umumnya permasalahan ini terjadi pada anak-anak di tingkat sekolah lanjutan pertama dan kedua orangtua mereka bekerja. Permasalahan ini dapat menjadi suatu kebiasaan, khususnya pada anak-anak di tingkat sekolah lanjutan atas.

Schaefer & Millman (1981) menyebutkan beberapa alasan mengapa seorang anak suka membolos yaitu:

  1. Ketidakjelasan sikap orangtua terhadap sekolah.
  2. Anak mengalami kesulitan dengan tugas-tugas sekolahnya dan membuat mereka cemas terhadap sekolah. Kondisi tersebut terkadang juga berakibat pada penerimaan teman-teman sekelas terhadap anak.
  3. Anak-anak tertentu terlalu pandai di kelasnya sehingga kurang mendapatkan tantangan dalam belajar.
  4. Merasa khawatir dengan kekerasan di sekolah seperti adanya narkoba atau pengalaman-pengalaman lain.

Untuk mengatasi permasalahan membolos ini, Peters (2000) orangtua dan pihak sekolah harus menjalin komunikasi setiap hari untuk memastikan kehadiran anak di sekolah. Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah dengan membuat lembar harian dimana semua guru yang mengajar pada hari tersebut harus membubuhkan tanda tangan mereka bila anak hadir saat mereka mengajar. Orangtua akan diberikan salinan tanda tangan guru tersebut dan bila mereka melihat ada kecurigaan pada lembar harian anak, orangtua dapat menghubungi pihak sekolah keesokan harinya, memeriksa kembali bahwa anak mereka telah hadir di sekolah dan tanda tangan yang tertera pada lembar harian adalah asli.

Schaefer & Millman (1981) menyebutkan beberapa cara lain yang dapat dilakukan oleh orangtua adalah dengan menunjukkan ketidaksetujuan sikap mereka terhadap perilaku membolos. Akan menjadi lebih baik bila orangtua juga  mencoba untuk memahami anak dengan mengetahui latar belakang mereka membolos serta memberikan insentif yang dapat memacu anak untuk hadir di sekolah.

The Manipulative Student

StudentsSiswa yang suka memanipulasi, dengan sengaja menghindar untuk melakukan tugas-tugasnya. Mereka pun seolah-olah telah siap dengan jawaban-jawaban yang dapat dipercaya setiap harinya mengenai alasan mengapa mereka tidak mengerjakan pekerjaan rumah atau mengerjakan tugas dalam jumlah yang lebih sedikit. Siswa yang manipulatif ini berpikir bahwa mereka harus bermain menjadi detektif untuk dapat memperbaharui alasan-alasan mereka. Bahkan siswa dengan tipe ini tidak segan-segan untuk mengubah nilai rapor mereka untuk nilai yang jelek.

Siswa yang manipulatif menikmati usaha-usaha manipulatif yang mereka lakukan dan merasa bangga telah melakukannya. Mereka merasa telah mengalahkan sistem sekolah, mengerjakan tugas sesedikit mungkin. Tujuan mereka datang ke sekolah adalah untuk bersosialisasi di kelas dan meremehkan tugas-tugas akademik. Mereka berpikir, tugas-tugas sekolah tidak memberikan keuntungan positif bagi mereka dan hanya siswa lugu yang mengerjakan tugas-tugas sekolahnya.

Siswa dengan karakteristik ini, tidak menyadari dampak dari perilaku mereka untuk jangka panjang. Mereka dapat menjadi siswa yang “kalah” pada masa-masa yang akan datang karena pengetahuan mereka tidak bertambah seperti teman-teman sekelasnya dan mungkin akan memiliki masalah yang besar untuk dapat lulus dari tes kompetensi di tingkat lanjutan atas.

Yang harus dilakukan oleh siswa manipulatif untuk mengejar ketertinggalan mereka karena kebiasaan belajar yang buruk adalah dengan mengikuti tutorial dan kelas malam. Orangtua juga diharapkan lebih berperan untuk memeriksa tugas-tugas harian anak dan memastikan bahwa mereka menyelesaikan tugas-tugas sekolah mereka sendiri.

The Disorganized Student

StudentsThe Disorganized student adalah siswa yang seolah-olah tidak dapat menempatkan sesuatu secara terorganisir. Permasalahan di sekolah muncul bagi siswa tipe ini adalah ketika mereka mulai berhadapan dengan mata pelajaran yang lebih beragam dengan guru yang berganti-ganti. Permasalahan ini mulai tampak nyata pada sekolah lanjutan tingkat pertama dan atas dimana siswa dituntut untuk memiliki perencanaan, pengorganisasian dan penetapan prioritas.

Siswa dengan tipe ini biasanya memiliki intensi yang baik. Bila mereka ingat untuk menuliskan tugas-tugas mereka dan membawa buku yang diperlukan ke rumah, mereka memiliki kesempatan yang baik untuk menyelesaikan tugas-tugas mereka. Namun hambatannya, kadang-kadang hanya sebagian tugas saja yang mereka tuliskan karena ketika mereka pindah ke ruang lain di rumah mereka, tugas-tugas berikutnya menjadi terlupakan. Siswa dengan tipe ini bukanlah siswa yang malas atau penentang. Mereka hanya kelihatan tidak dapat menyatukan semuanya secara bersamaan. Mereka biasanya mengerjakan pekerjaan-pekerjaan rumah mereka namun seringkali tidak lengkap dan jarang dikumpulkan tepat waktu. Hambatan yang biasanya terjadi adalah tugas-tugas tersebut tertinggal di rumah, sudah diletakkan di tas namun mereka mengalami kesulitan untuk menemukannya atau kehilangan buku-buku mereka. Orangtua siswa yang tidak terogranisir ini hampir frustrasi dan cepat hilang kesabaran karena mereka sudah mengupayakan berbagai cara, namun tidak menunjukkan hasil.

Ketidakteraturan pada anak ini dapat dipengaruhi oleh kombinasi nature (faktor genetik yang dibawa oleh anak ketika mereka lahir) dan nurture (apa yang diajarkan oleh lingkungan). Keluarga tidak dapat melakukan apa-apa terhadap aspek genetik, namun dapat mengubahnya dari lingkungan rumah. Anak dapat belajar untuk hidup dalam sistem perorganisasian sekolah yang realistik dan masuk akal. Orangtua dapat memotivasi anak secara ekternal setiap hari dengan menggunakan konsekuensi positif dan negatif secara konsisten, seperti pemberian reward dan punishment. Yang dapat mereka lakukan adalah mengajarkan anak mengenai sistem keterampilan belajar hingga membentuk suatu kebiasaan yang dapat dipercayakan kepada anak.