Pendidikan Ala Ujang Odon

JAKARTA, KOMPAS.com – Sebagian dari kita pasti familiar dengan nama Oemar Bakrie. Nama yang dipopulerkan Iwan Fals lewat lagunya “Guru Omar Bakrie”. Dia seolah menjadi ikon pendidikan Indonesia yang dikenal karena kesederhanaan dan dedikasinya menjalankan profesi sebagai seorang guru. Semangat juangnya perlu ditiru dalam upaya mengangkat mutu pendidikan di Indonesia.

Namun begitu, sejenak mari kita simpan kekaguman terhadap Oemar Bakrie dengan menilik sesosok pria di ruang yang belum kita kenal sebelumnya. Dia lah Ujang Odon, seorang guru yang kaya raya, terkesan angkuh dan matrealistis.

Ujang Odon adalah tokoh dalam sebuah komik yang terinspirasi dari potret nyata pendidikan saat ini. “Ujang Odon sengaja saya buat berbanding terbalik dengannya (Oemar Bakrie). Ujang Odon adalah figur seorang guru kaya raya yang melarang siswanya masuk sebelum membayar iuran sekolah,” kata komikus pencipta komik tersebut, Wawan Kurniawan (32), saat ditemui Kompas.com, di Institut Kesenian Jakarta (IKJ), Sabtu (25/6/2011). Tertarik? Silakan baca selengkapnya

Kebebasan Akademik dan Otonomi Keilmuan

Kebebasan Akademik dan Otonomi Keilmuan

Akademisi Jerman Wilhelm von Humbolt (1809) memformulasi konsep Akademische Freiheit (kebebasan akademik). Lernfreiheit (kebebasan mahasiswa untuk belajar) dan Lerhfreiheit (kebebasan dosen untuk mengajar) bersama dengan otonomi institusi menjadi pilar dasar kebebasan akademik.

Sebelum adanya kebebasan akademik ini, para ilmuwan masa lalu dibayangi oleh adanya rasa ketakutan jika memformulasikan suatu teori atau aksioma baru yang bertentangan dengan norma yang dianut pada saat itu. Astronom termasyhur Galileo Galilei (1564-1642) menjadi contoh korban peminggiran terhadap ilmuwan yang berani berseberangan dengan kaidah umum. Ia dikenakan tahanan rumah hingga akhir hayatnya, karena memverifikasi keabsahan teori Copernicus yang mengatakan bahwa galaksi anggota tata surya mengelilingi matahari. Ini bertentangan dengan teori Tychonic (bumi dan bulan tak mengitari matahari) yang dipercaya pada zaman itu. Tertarik? Silakan baca selengkapnya

Tentang Kearifan

Seorang yang arif atau bijaksana tidak bereaksi segera secara ekstrim terhadap suatu stimulus, sebelum ia menelaahnya lebih dari dua sisi. Pendapatnya terukur, tidak berlebihan, tidak fanatik. Melihat sesuatu maka ia ingin mengetahui keadaannya, riwayatnya dan kemungkinan-kemungkinannya. Ia tidak melompat dan menerkam sesuatu yang baru sebagai suatu yang menggantikan apa yang telah ada seluruhnya; ia akan mempertimbangkannya lebih dahulu. Orang yang arif dapat membedakan apa yang harus segera dihadapi dan apa yang dapat ditunda, lalu bekerja sesuai dengan itu. Ia dapat memahami mengapa seseorang bersikap atau bertindak seperti itu. Ia mengenal manusia. Kearifan tidak dapat dipisahkan dari keadilan dan kejujuran.

Sumber:

  • Harsono. 2006. Kearifan dalam Transformasi Pembelajaran: Dari Teacher-centered ke Students-centered Learning. Jurnal Pendidikan Kedokteran dan Profesi Kesehatan Indonesia. Vol. 1 (1).