Pendidikan Ala Ujang Odon

JAKARTA, KOMPAS.com – Sebagian dari kita pasti familiar dengan nama Oemar Bakrie. Nama yang dipopulerkan Iwan Fals lewat lagunya “Guru Omar Bakrie”. Dia seolah menjadi ikon pendidikan Indonesia yang dikenal karena kesederhanaan dan dedikasinya menjalankan profesi sebagai seorang guru. Semangat juangnya perlu ditiru dalam upaya mengangkat mutu pendidikan di Indonesia.

Namun begitu, sejenak mari kita simpan kekaguman terhadap Oemar Bakrie dengan menilik sesosok pria di ruang yang belum kita kenal sebelumnya. Dia lah Ujang Odon, seorang guru yang kaya raya, terkesan angkuh dan matrealistis.

Ujang Odon adalah tokoh dalam sebuah komik yang terinspirasi dari potret nyata pendidikan saat ini. “Ujang Odon sengaja saya buat berbanding terbalik dengannya (Oemar Bakrie). Ujang Odon adalah figur seorang guru kaya raya yang melarang siswanya masuk sebelum membayar iuran sekolah,” kata komikus pencipta komik tersebut, Wawan Kurniawan (32), saat ditemui Kompas.com, di Institut Kesenian Jakarta (IKJ), Sabtu (25/6/2011).

Pria jebolan Fakultas Sastra Sunda dari sebuah universitas ternama di Bandung ini bercerita, Ujang Odon adalah wajah keresahan dirinya terhadap fenomena pendidikan di Indonesia. Ia menyayangkan banyaknya masalah dalam dunia pendidikan di Indonesia.

Β “Nama Ujang Odon timbul begitu saja. Saya pikir cocok untuk mewakili tokoh tersebut. Ujang Odon adalah cermin terbalik yang terinspirasi dari guru Oemar Bakrie. Tidak berdedikasi, tidak miskin dan cenderung matrealistis,” ujarnya. Sejatinya, Ujang Odon mendapatkan apresiasi yang cukup baik karena telah diedarkan secara online oleh sebuah situs di luar negeri.

Ia berharap, dapat menampilkan tokoh-tokoh lain yang mampu menjadi pemicu meledaknya isu perbaikan sistem dan mutu pendidikan di Indonesia. “Apresiasinya lumayan tinggi, terutama dari mahasiswa Indonesia di luar negeri. Ada juga memuji saya karena berani “menghina” bangsa sendiri melalui Ujang Odon,” ungkapnya. Wawan memilih mengedarkan Ujang Odon di luar negeri karena beberapa alasan. Salah satunya karena dinilainya dapat lebih menghargai sebuah karya.

“Saya ini enggak suka organisasi dan enggak suka melombakan karya-karya saya karena saya takut ada yang mencuri (plagiat). Saya menyambut baik ketika ada seorang teman yang ingin membantu agar Ujang Odon bisa diedarkan secara online di situs luar negeri,” katanya. “Kedepan, saya sudah menyiapkan seribu tokoh dengan karakter wayang modern. Saya yakin, pendidikan itu ada di mana saja, salah satunya melalui pendidikan kebudayaan. Karena kebudayaan mampu membentuk karakter,” tambahnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s