What is The Sixth Sense of Children?

Resume Buku:

THE SIXTH SENSE OF CHILDREN: NURTURING YOUR CHILD’S INTUITIVE ABILITIES (Oleh Litany Burns)

Bab 1

APA YANG DIMAKSUD DENGAN INDRA KE ENAM SEORANG ANAK?

Pada Bab I ini dibahas mengenai apa sebenarnya yang dimaksud dengan indra ke-6 itu.  Apakah itu suatu kebetulan?  Intuisi seorang ibu?  Atau berupa bentuk lain dari komunikasi?

Definisi intuisi berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah sebagai berikut: 1. daya atau kemampuan mengetahui atau memahami sesuatu tanpa dipikirkan atau dipelajari: bisikan hati: gerak hati. 2. wawasan atau pengetahuan yang menerangkan atau meramalkan peristiwa politik tanpa bergantung pada suatu proses penalaran secara sadar tanpa atau dengan bukti-bukti.

Sedangkan pada bab ini maka intuisi adalah kemampuan yang dimiliki sejak pertama seorang bayi dilahirkan ke dunia.  Secara spontan mereka mengembangkan kemampuan indra ke-enamnya (intuisi) mereka untuk komunikasi dan perlindungan diri.  Hal ini diperlukan sebelum kemampuan bahasa dan ketrampilan-ketrampilan lainnya berkembang.  Selain menggunakan ke-5 indra yang lainnya (melihat, mendengar, membau, dan meraba), bayi berhubungan dengan orang lain dengan indra ke-enamnya, dengan intuisinya.

Perilaku intuisi pada bayi sangat menarik para psikolog untuk mempelajarinya.  Apabila seorang bayi ditempatkan dalam suatu ruangan bersama seorang yang stress, ia akan dapat merasakannya dan akan bertingkah laku dengan gelisah.  Kemampuan untuk mengirim dan menerima pesan-pesan dari orang lain disebut”telepati”.  Hal ini merupakan kemampuan umum yang dimiliki dan digunakan bayi untuk berkomunikasi dengan orang dewasa.

Seorang ibu dapat membedakan arti tangisan bayinya, apakah ia menangis karena lapar atau sakit, ingin perlindungan, atau lelah dsb.  Kemampuan ini disebut “intuisi seorang ibu” yang dapat mengetahui kebutuhan dan keinginan bayi dan berkomunikasi.  Anak-anak menggunakan intuisinya untuk merasakan emosi orang dewasa, ia juga dapat merasakan energi atau aura dari tempat-tempat tertentu.

Ketika mulai bisa berbicara, maka mereka menggabungkan kemampuan baru mereka tersebut dengan “cara komunikasi” mereka selama ini.  Sehingga kadangkala terjadi jarak pengertian antara yang mereka ucapkan dengan yang mereka inginkan, dan mereka mengharapkan orang dewasa mengerti dan paham apa yang mereka inginkan tersebut. (hal ini kadangkala terjadi juga pada orang dewasa yang mengharapkan orang lain mengerti keinginannya tanpa memberi penjelasan yang dapat dimengerti).

Dalam situasi tertentu, misalnya dalam keadaan tertekan atau terancam, anak-anak lebih memilih untuk menggunakan kemampuan ‘komunikasi telepati’ mereka kembali.  Hal ini bukan berarti mereka mengalami kemunduran atau tidak matang, tetapi lebih disebabkan mereka memilih cara yang paling aman dan mudah, sederhana yang sudah jelas mereka ketahui dapat membantu mereka.

Telepati sering terjadi juga antara saudara kandung, antara kakak dan adik, dimana seorang kakak dapat menterjemahkan secara tepat apa yang diinginkan adik bayinya (yang bahkan belum tentu dapat dilakukan oleh ibunya).  Komunikasi yang terjalin biasanya bersifat mudah dan cepat dengan kode-kode, isyarat rahasia yang hanya diketahui mereka berdua saja.

Saudara kembar mempunyai hubungan telepati yang lebih kuat lagi satu sama lain, karena adanya ikatan batin yang kuat antara si kembar tersebut.  Setiap seorang kembar secara intuisi dapat mengetahui apa yang dipikirkan, dirasakan atau dialami dan diketahui oleh saudara kembarnya.

Anak-anak dikatakan ‘lebih terbuka’ sehingga lebih peka dan lebih dapat merasakan hal-hal yang terjadi di sekelilingnya daripada orang dewasa untuk mengembangkan kemampuan indra ke-enamnya.

Dunia modern sekarang ini yang penuh perhatian pada teknologi dan berpikir rasional juga penuh dengan cerita-cerita supranatural.

Carl Gustaf Jung (dalam Matlin, 1999) menyebutkan bahwa keseluruhan kepribadian seseorang terdiri dari tiga sistem yang saling berhubungan, yaitu: kesadaran, ketidaksadaran pribadi (personal unconsciousness) dan ketidaksadaran kolektif (collective unconsciousness).  Pusat dari kesadaran adalah ego yang terdiri dari ingatan, pikiran dan perasaan.  Ketidaksadaran kolektif inilah yang disebut intuisi, adalah sistem yang paling berpengaruh terhadap kepribadian dan bekerja sepenuhnya di luar kesadaran orang yang bersangkutan.  Sistem ini merupakan pembawaan rasial yang mendasari kepribadian dan merupakan kumpulan pengalaman-pengalaman dari generasi-generasi terdahulu, bahkan dari nenek moyang manusia.  Komponen-komponen ketidaksadaran ini disebut arkhetip, yaitu kecenderungan-kecenderungan yang universal dan merupakan pembawaan pada manusia yang menyebabkan manusia bertingkah laku dan mengalami hal-hal yang selamanya berulang, serupa dengan yang telah dilakukan dan dialami oleh nenek moyang yang menurunkannya.

Problems and Possibilities

Intuisi adalah salah satu komponen atau faktor yang menentukan keberbakatan seorang anak (Clark, 1986), karenanya masalah-masalah yang dihadapi anak berbakat intuisi sama dengan yang dialami anak-anak berbakat lainnya.

Masalah-masalah yang ditemui oleh anak-anak yang berbakat intuisi adalah sering mengajukan pertanyaan-pertanyaan mengenai apa yang dirasakannya. Pembicaraan dan tingkah laku yang tanpa alasan yang jelas atau mimpi-mimpi yang oleh orang dewasa seringkali tidak dipedulikan.

Masalah seringkali muncul atau terjadi di sekolah, di rumah (keluarga) atau dengan teman-teman sebayanya.  Mereka seringkali menarik diri dari pergaulan karena tidak mampu bersaing, mereka tidak mendapat kepercayaan dari orang dewasa yng menyebabkan rasa tidak percaya diri.  Mereka biasanya tidak mampu menjelaskan (bahkan kepada diri mereka sendiri) tentang kemampuannya atau perasaannya, sehingga tidak bisa menjalin komunikasi yang baik dengan orang dewasa.  Karenanya mereka membangun “dinding pertahanan diri’ yang tebal dan tidak mau membuka diri dengan orang lain.  Di mata teman-temannya mereka sama sekali tidak istimewa.

Contoh orang terkenal yang pada mulanya diacuhkan oleh lingkungannya karena ia dianggap “berbeda dan aneh, serta bermasalah” adalah Thomas Edison, Einstein, da Vinci, Churchil dan Dickinson.  Tetapi pada akhirnya mereka dapat menunjukkan kemampuannya dan diakui dunia.

Anak-anak yang berbakat untuk menjadi penemu, artis, berbakat kepemimpinan kebanyakan mempunyai masalah yang sama.  Apabila anak-anak lain belajar secara visual, mereka berpikir secara konseptual dan secara intuisi mereka belajar melalui pemahaman.  Anak-anak ini melihat keseluruhan gambaran permasalahan, baru kemudian beranjak ke bagian-bagian yang lebih kecil.

Banyak orang-orang terkenal, tetapi ternyata pada masa kecilnya tidak diakui atau tidak mendapat dukungan dari lingkungannya.  Berdasarkan penelitian Howe, dalam makalah yang berjudul Prodigies and Creativity, terdapat delapan kategori kombinasi latar belakang seseorang, prodigi dan kreativitas yang menentukan apakah orang tersebut kelak dapat berhasil atau tidak, salah satunya adalah adanya lingkungan  yang mendukung, dianggap tidak prodigi di waktu kecil, tetapi ternyata dapat kreatif di masa depan.  Lingkungan ternyata berpengaruh terhadap kreativitas di masa dewasa.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s