Peran orangtua terhadap anak usia pra sekolah

(Bagian 4/4)

Pola pengasuhan pada anak usia 2-7 tahun

Pada usia ini anak-anak mulai memperoleh berbagai hal dan kemampuan baru seperti mobilitas, bahasa dan penalaran yang belum matang.  Kemampuan mereka yang terbatas tentang penalaran membuatnya susah untuk melakukan adaptasi dengan kemampuan fisiknya, misalnya: mereka sudah dapat berlari kesana-kemari tetapi masih belum mengerti akan bahaya kendaraan di jalan.  Egosentris mereka membuatnya tidak bisa melihat sudut pandang orang lain sehingga memunculkan perilaku yang kadang kala menyusahkan.  Pada masa ini berkembang pula daya imajinasi anak dan kadang kala mereka tidak dapat membedakan mana yang rasional dan mana yang irrasional

Pada masa ini peran orangtua adalah membimbing anak mereka untuk dapat memahami aturan-aturan dan nilai-nilai yang berlaku dalam keluarga.  Orangtua dapat mengkombinasikan antara kehangatan dan persahabatan dengan anak tetapi tetap memberikan penjelasan peraturan-peraturan yang spesifik untuk menerapkan disiplin yang efektif. Dengan penjelasan yang diberikan maka anak-anak dapat memahami alasan orangtua terkait dengan norma-norma tertentu.

Dalam menerapkan disiplin ini orangtua juga harus konsisten dengan aturannya setiap waktu, hal ini sangat penting sebab jika tidak akan membentuk konflik dengan anak yang nantinya akan berlanjut pada perilaku yang maladaptif, agresi dan kenakalan.

Pemberian alasan dan penjelasan yang tepat akan membantu anak membentuk konsep yang tepat dan dapat digeneralisasikan pada situasi baru. Cara yang mudah untuk membimbing anak adalah dengan memberi contoh dan teladan yang tepat karena pada masa ini anak senang meniru apa yang dilakukan orang dewasa di sekitarnya.

Pemberian contoh ini juga termasuk untuk mengembangkan emosi dan kepribadian anak yang prososial yaitu dengan mengatakan pada mereka betapa senangnya orangtua dapat membantu orang lain, dengan ini anak dapat menangkap secara tepat nilai-nilai yang dimaksud.

Selain itu, orangtua, yaitu ayah dan ibu harus kompak selalu (united parenting) dalam visi, misi dan harapan terhadap anak. Persaingan antar orangtua dalam pengasuhan hanya akan membuat bingung anak dan berpengaruh pada identifikasi peran yang membingungkan dan menyebabkan konsep diri yang kacau.

Orangtua sebaiknya tidak membedakan perlakuannya terhadap anak laki-laki atau perempuannya apalagi sampai mengarah pada stereotipe jender yang kaku.  Anak perempuan pun perlu memiliki ketrampilan-ketrampilan tertentu dan anak laki-laki pun harus punya kemampuan menguasai emosinya.

Anak membutuhkan bantuan orangtua untuk mengatasi gejolak berbagai perasaan dihadapinya.  Anak diberi kesempatan untuk mengungkapkan perasaannya.  Orangtua kemudian dapat memberitahu perasaan yang terjadi, mengidentifikasinya perasaan, kejadian atau orang-orang yang memicu perasaan tersebut.  Langkah selanjutnya adalah mencoba menemukan akar masalah dan cara memecahkan masalah.

Anak juga didorong dan dimotivasi untuk selalu mengembangkan bakat dan minatnya, daya imajinasi dan kreativitasnya.  Dengan begitu anak dapat tekun pada bidang yang diminatinya, mandiri dan percaya diri.

Saling mendengarkan merupakan satu kunci penting dalam komunikasi.  Jika orangtua mau mendengarkan anak, maka orangtua akan menjadi contoh yang baik bagi anak untuk mau mendengarkan juga.

Bermain ada kaitannya dengan belajar dan kehidupan.  Bagi anak bermain adalah sarana dalam proses belajar. Orangtua hendaknya meluangkan waktunya untuk bermain dengan anak.  Dalam permainan anak akan belajar yang namanya kalah dan menang dan dapat menumbuhkan sportivitas yang sehat.

Lingkungan yang mendukung

Anak perlu berada pada lingkungan yang kaya akan rangsangan dan mempunyai kebebasan untuk meng-eksplorasi lingkungan tersebut.  Anak juga memerlukan orang dewasa yang mau mendengarkan dan menjawab pertanyaannya.

Berikut adalah berbagai cara untuk menciptakan lingkungan yang mendukung:

  1. Mengetahui kapan memperkenalkan mainan atau ide-ide untuk anak yang sesuai dengan perkembangannya.
  2. Memberikan suatu permainan yang menuntut imajinasi, baik untuk bermain sendiri atau bersama dengan teman-temannya, berikan mainan yang dapat dibentuk, dan bukan mainan yang sudah jadi.
  3. Membacakan cerita padanya, untuk mengembangkan kemampuan bahasanya dengan membuat cerita secara kreatif imajinasi dan dengarkan dia. Memperkenalkan padanya aktivitas yang bersifat open ended sehingga ia mendapat kesempatan untuk mengeksplorasi kemampuannya.
  4. Menjauhkan anak dari TV dan Video game, dan memberikan akses yang terbatas pada keduanya, karena dengan hanya menonton TV atau main Game akan membuat anak susah berkonsentrasi, perhatiannya kurang mendalam, dan perkembangan otak kiri yang terbatas.

Jadi, kesimpulannya….

Peran orangtua sangat penting dalam membimbing dan mengarahkan anak, modeling dan mampu menciptakan lingkungan yang mendukung untuk mengembangkan semua potensi anak secara optimal, termasuk kecerdasan emosinya.

Anak juga diharapkan memiliki rasa percaya diri, terbiasa berpikir sebelum bertindak, bertanggung jawab dan dapat bekerja dalam kelompok.

Anak sering dikatakan sebagai cerminan orangtuanya.  Ini disebabkan perilaku anak adalah hasil belajar imitasi perilaku orangtuanya. Sehingga dapat dikatakan proses pengasuhan adalah proses dua arah antara anak dan orangtua, dimana banyak pula hal yang dapat dipelajari oleh orangtua dari anaknya sehingga menjadikan hidup ini lebih baik dan bermakna.

Bagian 1

Bagian 2

Bagian 3

Bahan Rujukan:

Anies. B. (2003). Merangsang Otak Kanan, Mengembangkan Kreativitas. Maret, 2003. Kompas.

Angelica,J. & Pittelkow, K. (2000). Discover the Gift and Talents in Your Child. Sydney: Griffin Press.

Armstrong, T. (2000). In Their Own Way Discovering and Encouraging Your Child’s Multiple Intelligences. New York: Penguin Putnam inc.

Berger, E.H. (1995). Parents as Partners in Education. (4th ed). New Jersey: Prentice Hall.

Berliner, D.C., & Gage, L.N., (1992). Educational Psychology.(5th ed). Boston: Haoughton Mifflin Company.

Ferrucci, P. (2002). Apa yang Diajarkan oleh Anak Kita. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Kompas. (2003). Belum Cukup jika Hanya Cerdas. Maret, 2003.

Kompas. (2003). Jangan Dewakan IQ pada Anak Dini Usia. Februari, 2003.

Matlin, M.W.(1999). Psychology. (3rd ed). Orlando: Harcourt Brace & Company.

Morgan, C.,King, R., Weisz, J.,Schopler, J. (1986). Introduction to Psychology. (7th ed). New York: McGraw-Hill Book Company.

Semiawan, C. (2000). Peran Orang Tua dalam Pendidikan Pra Sekolah. Pendidikan Keluarga dalam Era Global. Jakarta: Gramedia.

Rimm, S. (1987). Smart Parenting How to Parent so Children will Learn. USA: Three Rivers Press.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s