Guru, Mengajar Apa atau Siapa?

Guru, Mengajar Apa atau Siapa?

Oleh: Anita Lie

Saat ini guru-guru yang beruntung sedang berlomba-lomba mengumpulkan portofolio. Hal itu dilakukan untuk memperoleh sertifikasi demi perolehan tunjangan profesi dan fungsional. Berbagai ekses—keikutsertaan dalam program pelatihan hanya demi sertifikat, manipulasi berkas, dan kolusi antara pemilik portofolio dan penilai—amat menodai profesi guru, bahkan melemparkan guru pada titik nadir dalam perjalanan profesinya.

Dalam refleksi menyambut Hari Guru, profil Ny Liem Khing Nio (89) dan Dibyohadiatmodjo (88), guru pada zaman Belanda, zaman Jepang, dan zaman Kemerdekaan yang ditulis dalam Pendidikan Manusia Indonesia, Tonny D Widiastono (editor) memberi contoh sosok guru yang pantang menyerah, tulus, ikhlas, terus berkarya dan berprestasi hebat.

Kedua sosok guru ini mengajar dan mendidik, sebagai bagian perjalanan dan panggilan hidup. Mereka memaknai tiap tindakan dan ucapan sebagai bagian perjalanan panjang untuk melayani anak manusia dalam sejarah peradaban. Para guru ini senantiasa bersinar di tengah gambaran suram dunia guru saat ini.

Perjalanan spiritual

Dalam bukunya, The Courage to Teach, Parker Palmer (2003) mengatakan, menjadi guru bukan sekadar melakukan pekerjaan biasa, tetapi juga memenuhi panggilan hati dan melakukan perjalanan spiritual. Palmer juga berpendapat, dalam perjalanan profesinya, seorang guru terus mengaitkan tiga hal, yakni diri sendiri dengan anak didik dan bidang pengetahuan/keterampilan yang diampunya.

Yang pertama, proses penemuan diri seorang guru dalam perjalanan panggilannya adalah proses penemuan dan pengukuhan identitas serta integritas. Setiap guru seharusnya menggali diri sendiri, menemukan identitasnya sendiri, dan mengembangkan gaya serta metode dan teknik mengajar yang sesuai dengan diri sendiri untuk menyinarkan aura terbaiknya yang bisa menerangi peserta didik.

Penemuan dan kesadaran diri ini akan menjadi modal bagi guru untuk mempertahankan integritasnya dan menjadi dirinya sendiri secara utuh, sesuai harkat kemanusiaannya.

Sayang, dalam realitas perjalanan profesi guru, ada banyak hambatan termasuk dari budaya, birokrasi, dan sistem pendidikan itu sendiri yang menghalangi panggilan guru untuk mempertahankan identitas dan integritasnya. Seharusnya berperan sebagai aktor dalam proses pembudayaan, transformasi nilai-nilai, dan rekonstruksi masyarakat, sebagian guru malah melakukan pelanggaran etika sebagai pendidik dengan memberi les privat bagi peserta didik, bahkan membocorkan soal- soal ulangannya sendiri, memfasilitasi kecurangan dalam pelaksanaan ujian nasional, ikut menjual buku-buku ajar dari penerbit yang memberi komisi memuaskan, atau ikut terlibat sebagai saksi yang menutup mulut atas beberapa tindakan manipulasi dan korupsi oleh birokrasi pendidikan atau pengelola sekolah.

Dua hal berikut yang terkait perjalanan seorang guru adalah anak didik dan mata pelajaran yang diampu. Satu pertanyaan yang bisa diajukan kepada para guru adalah, “Apakah Anda mengajar Bahasa Inggris/Matematika/IPS/IPA atau apakah Anda mengajar anak?”

Jawaban langsung (tanpa refleksi) kebanyakan guru adalah “Saya mengajar keduanya.” Jawaban ini tampak sederhana dan benar. Namun, refleksi lebih dalam atas praksis pengajaran menunjukkan, mengajar keduanya tidak selalu (bisa) dilakukan. Dalam tingkat kebijakan dan praksis pendidikan formal, ada konsensus, semakin tinggi jenjang pendidikan, semakin besar kecenderungan mengajar bidang disiplin dari peserta didik.

Guru taman kanak-kanak dan sekolah dasar dianggap lebih generalis dan lebih memahami psikologi anak dibandingkan dengan guru-guru sekolah menengah dan perguruan tinggi yang lebih spesialis.

 

Identitas dan integritas guru

Dalam praksis pendidikan formal, biasanya guru pada jenjang lebih tinggi mendapat penghargaan, baik materi maupun prestise, lebih tinggi daripada guru TK dan SD. Banyak pengelola sekolah memberi gaji lebih besar kepada guru SMP dan SMA daripada kepada guru TK dan SD. Sikap ini dilandasi asumsi, apa yang diajarkan lebih penting daripada siapa yang diajar. Padahal, pendidikan dasar memberi landasan bukan hanya bagi pembentukan karakter, tetapi juga pengembangan kapasitas intelektual dan keterampilan seorang anak.

Pemilihan mata pelajaran yang diampu, bisa dilakukan sebelum atau dalam masa jabatan, seharusnya dilakukan dalam kesadaran dan keterkaitan dengan identitas dan integritas setiap guru.

Dalam menjalankan profesinya, ada proses penyatuan diri dengan bidang yang diampu. The messenger is the message. Salah satu indikator proses penyatuan diri dengan bidang ini adalah kecintaan terhadap apa yang diajarkan, termasuk kaidah-kaidah dalam disiplin ilmu. Juga keyakinan, apa yang diajarkan akan membawa perubahan dan kebaikan dalam kehidupan peserta didik sebagaimana pengetahuan, keterampilan, dan nilai yang terkandung dalam bidang yang diampu membawa kebaikan bagi sang guru.

Selanjutnya, untuk mengajar keduanya, mata pelajaran dan peserta didik, seorang guru tidak berhenti hanya pada peran sebagai the messenger who delivers the message. Identitas dan integritas seorang guru memungkinkan untuk menyapa tiap pribadi peserta didik, menyentuh hati, dan membebaskan untuk menemukan guru dari dalam diri sendiri.

Parker Palmer menyebut the teacher within. Implikasi pemahaman ini adalah seorang guru sejati dipanggil untuk membebaskan peserta didik bukan hanya dari ketidaktahuan, tetapi juga membebaskan peserta didik dari ketergantungan kepada guru. Seorang guru dipanggil untuk membebaskan peserta didik dari ketidaksadaran bahwa sebenarnya peserta didik mempunyai guru sendiri, yakni yang ada di dalam diri sendiri, yang terus membimbing dan memimpin sepanjang hayat.

Anita Lie Dosen FKIP Unika Widya Mandala, Surabaya; Anggota Komunitas Indonesia untuk Demokrasi

Sumber: Kompas, Sabtu, 24 November 2007

One thought on “Guru, Mengajar Apa atau Siapa?

  1. Thanks bagus banget. memberi inspirasi sekaligus bahan perenungan untuk koreksi diri. Tapi memang jadi figur guru, yang patut untuk di ‘gugu’ dan ‘ditiru’ itu tidak mudah….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s