Anak Indigo

Anak Indigo

(Bagian 4/4)

Penanganan anak Indigo

1. Orangtua

Pada dasarnya, penanganan yang diberikan kepada anak indigo adalah dengan mengajak mereka berdialog. Nancy Tappe (dalam carrol & Tober, 1999) menyarankan bahwa yang dapat dilakukan oleh orangtua anak indigo adalah berbicara dengan mereka. Dengan demikian mereka akan menjadi sangat kooperatif. Anak-anak indigo umumnya menjadi sangat tidak kooperatif karena orangtua cenderung memojokkan mereka dan merasa pendapatnya selalu benar. Oleh karena itu dianjurkan agar orangtua memperhalus kembali keterampilan berkomunikasi.

Anjuran untuk berbicara dengan anak indigo ini adalah sejak mereka bayi. Biarkan anak-anak indigo mendengarkan orangtua berbicara dengan mereka meskipun mereka belum dapat berbicara. Dengan demikian anak akan merasa dihargai.

Dalam menangani anak indigo, terdapat 10 prinsip dasar yang perlu disadari orangtua maupun pendidik (Carrol & Tober, 1999). Prinsip dasar tersebut yaitu:

  1. Perlakukan anak indigo dengan respek. Hargai keberadaan mereka dalam keluarga.
  2. Bantu anak-anak indigo untuk menciptakan solusi disiplin diri.
  3. Berikan anak-anak indigo pilihan tentang apa pun.
  4. Jangan pernah mengecilkan arti mereka.
  5. Selalu berikan penjelasan mengapa suatu instruksi diberikan. Orangtua maupun pendidik perlu mendengarkan penjelasan tersebut bagi diri sendiri, apakah penjelasan yang diberikan masuk akal. Anak-anak indigo tidak akan menghargai instruksi yang diberikan secara otoriter, dictator tanpa alas an yang benar. Mereka tidak akan mematuhinya. Terkadang alas an sederhana yang berlandaskan kejujuran akan lebih dipertimbangkan oleh mereka daripada alasan yang tidak masuk akal dan mengada-ada.
  6. Jadikan anak indigo sebagai mitra dalam membesarkan mereka
  7. Ketika bayi, berikan anak indigo penjelasan mengenai apa pun yang sedang dilakukan. Mereka tidak akan memahaminya, namun mereka dapat merasakan penghargaan orangtua terhadap mereka.
  8. Bila permasalahan serius berkembang, pelajari dan konsultasikan permasalahannya sebelum diberikan obat untuk mengatasinya.
  9. Berikan rasa aman ketika memberikan dukungan kepada anak-anak indigo. Hindari kritik yang negative.
  10. Biarkan anak-anak indigo memilih bidang-bidang pekerjaan atau kegiatan yang menjadi minatnya. Umumnya mereka tidak ingin menjadi pengikut

2. Sekolah

Jennifer Palmer (dalam Carrol & Tober, 1999) menyampaikan beberapa cara yang dilakukannya di kelas bersama anak indigo, yaitu:

  • Menyediakan waktu untuk mendiskusikan apa yang diharapkan oleh siswa dan guru.
  • Menciptakan suasana kelas penuh kekeluargaan, dengan aturan kelas ditetapkan bersama.
  • Menetapkan konsekuensi berdasarkan penyebab masalah.
  • Gunakan pernyataan positif.
  • Saling berbagi perasaan antara guru dan siswa.
  • Guru menjadi pendengar yang baik.

Kurikulum yang ditetapkan bagi anak-anak indigo disusun berdasarkan kebutuhan siswa yang bervariasi, bila memungkinkan berdasarkan keterampilan dan pengetahuan mereka. Topik, tema dan unik kerja direncanakan berdasarkan kegiatan, misalnya kerja kelompok, penilaian diri, mengulas literatur, dan mengadakan penelitian. Kadang siswa juga dilibatkan untuk memilih topik dan memperoleh kesempatan untuk memilih, menentukan parameter dengan tujuan untuk membangkitkan minat mereka.

Kegiatan-kegiatan yang dirancang bertujuan untuk mengajarkan keterampilan berpikir sederhana dan kompleks meliputi:

  • Observasi
  • Mengelompokkan, mengklsifikasikan
  • Menyatakan kembali, mengingat kembali dan mengulas suatu topik yang telah dipelajari
  • Membandingkan, mengkontraskan
  • Memahami, mengerti
  • Penalaran, penilaian
  • Penerapan
  • Merancang
  • Menciptakan

Asesmen dapat dilakukan oleh diri sendiri, teman sebaya atau guru. Bentuk asesmen yang dilakukan dalam bentuk yang beragam seperti presentasi, poster, demonstrasi, bermain peran, analisa suatu produk, menyeleksi kriteria, menulis anekdot, konferensi atau pemutaran film.

Kesimpulan

Fenomena mengenai anak indigo merupakan fenomena yang relatif baru di masyarakat. Millenium 2000 ini disebut sebagai millenium spiritual dan diperkirakan akan lebih banyak anak ditemukan memiliki karakteristik sebagai anak indigo. Anak-anak indigo ini merupakan potensi anak bangsa yang cerdas, kreatif dan inovatif. Namun akibat ketidaktahuan orangtua, keluarga dan masyarakat mereka mendapatkan perlakuan yang salah sehingga berkembang menjadi seorang anak yang bermasalah. Pengetahuan dan kesadaran masyarakat mengenai anak indigo ini masih terbatas.

Sebagai langkah awal, upaya penanganan yang dapat dilakukan ole orangtua dan guru serta pihak Sekolah. Namun sosialisasi mengenai fenomena anak indigo dan penanganan yang diberikan masih perlu ditingkatkan. Akan lebih baik bila tujuan penanganan dapat diperluas dalam mengembangkan pendidikan, minat dan bakat anak-anak indigo. Untuk itu diperlukan perluasan penanganan dalam tim, seperti melibatkan psikolog pendidikan maupun tenaga pekerja sosial.

♠ Bagian 1

♠ Bagian 2

♠ Bagian 3

Penulis: Vitriani Sumarlis

Bahan rujukan:

Ackerman, Cheryl M. (Juni, 1997). Identifying Gifted Adolescents Using Personality Characteristics: Dabrowski’s Overexcitabilities. Roeper Review. A Journal on Gifted Education, 19 (4).

Carroll, Lee & Tober, Jan. (1999). The Indigo Children: The New Kids Have Arrived. Carlsbad, CA: Hay House.

Carroll, Lee & Tober, Jan. (2001). An Indigo Celebration: More Messages Stories, and Insights From The Indigo Children. Carlsbad, CA: Hay House.

Effendi, Irmansyah. (2001). Reiki: Teknik Efektif Untuk Membangkitkan Kemampuan Penyembuhan Luar Biasa Secara Seketika. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

Kusuma, Erwin. (2003). The Indigo Child (Nilaputra). Makalah pribadi.

Rabiner, David (May, 2003). The Misuse and Abuse of Stimulant Medication: What Do We Know?. Attention Research Update, 79.

Rambo, Anne. (2002). I Know My Child Can Do Better: a Frustrated Parent’s Guide to Educational Options.  New York, NY: Contemporary Books

Virtue, Doreen. (2001). The Care and Feeding of indigo Children.  Carlsbad, CA: Hay House.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s