Gaya belajar anak dan strateginya

LEARNING STYLES AND STRATEGIES

(Bagian 1/4)

ACTIVE AND REFLECTIVE LEARNERS

(Gaya belajar aktif dan reflektif)

  • Active learners cenderung untuk  mengulang dan memahami informasi dengan melakukan sesuatu seperti berdiskusi atau aplikasi atau mencoba menjelaskannya pada orang lain.
  • Reflective learners lebih suka untuk memikirkannya terlebih dahulu sesuatu hal sebelum melakukan sesuatu.
  • “Ayo coba dulu dan kita lihat apakah ini akan berhasil ” adalah kalimat yang dikatakan seorang active learner’; “Coba pikirkan dulu” adalah respon seorang  reflective learner.
  • Active learners cenderung menyukai bekerja dalam kelompok, sementara reflective learners lebih menyukai bekerja sendiri.
  • Duduk mendengarkan ceramah tanpa melakukan kegiatan fisik selain mencatat akan dirasa sangat berat bagi seorang active learners.

Setiap orang sewaktu-waktu adalah active dan sewaktu-waktu reflective. Preferensi seseorang pada salah satu kategori bisa saja kuat, sedang atau lemah.  Keseimbangan antara keduanya sangatlah baik.  Kalau seseorang selalu bertindak tanpa berpikir, maka dapat melakukan sesuatu dengan tergesa-gesa dan menjumpai masalah, sementara kalau menghabiskan waktu untuk berpikir maka pada akhirnya mungkin tidak melakukan apa-apa.

Tertarik? Silakan baca selengkapnya

Anak melakukan yang terbaik

  Children doing their best

Bagian 4/4 

Dalam sebuah keluarga, perbedaan keunggulan belajar dapat menjadi suatu permasalahan.  Sebagai langkah awal adalah memahami perbedaan setiap anggota keluarga.  Ketika ada lebih dari satu anak dalam keluarga dengan gaya yang berbeda pula, maka orangtua bertindak sebagai mediator untuk mampu menggunakan perbedaan tersebut untuk saling memperkaya pengalaman masing-masing anak.

Anak kinestetik mempunyai energi yang berlebih pada setiap aktivitas, kadangkala bermain dengan kasar, selalu menang, tetapi ia mau membela saudaranya dan membantunya dalam hal-hal yang membutuhkan usaha fisik.

Anak auditori biasanya membuat banyak suara (berisik), bahkan ketika saudara yang lain sedang membutuhkan ketenangan, ia menyanyi, membuat lagu-lagu, dan membuat orang lain tertawa dengan ceritanya.

Anak visual senang menggambar, atau menulis pesan-pesan istemewa untuk orang lain.  Setiap ada kesempatan orangtua dapat membantu anak untuk melihat keunggulan orang lain, juga menghormati orang lain, membantu saudaranya, saling memperkaya dengan menggabungkan bakat mereka, dan menghargai perbedaan masing-masing daripada sibuk mengkritiknya.

Perbedaan antara orangtua dengan anak, atau antara sesama anak dapat menimbulkan masalah, tetapi hal ini dapat diatasi dengan semacam kompromi atau perjanjian yang dibuat antara kedua belah pihak.  Sebagai sebuah keluarga akan selalu ada masalah yang timbul, sehingga penting untuk selalu membentuk harapan yang realistik dalam berhubungan dengan anggota keluarga.  Kunci sukses dalam berkompromi adalah dengan memperbolehkan sesama anggota saling memberi masukan hal-hal yang mempengaruhinya.  Dan, ketika mencoba solusi baru, maka pendekatan yang halus akan dapat membantu karena sebuah kebiasaan lama susah diubah.  Dengan mengetahui lebih dalam bagaimana cara belajar seseorang maka dapat digunakan untuk membantu anak belajar secara efektif dan mengembangkan potensi yang ada.

♠ Bagian 1: Bantu anak kita mengembangkan keunggulan gaya belajarnya

♠ Bagian 2: Belajar bagaimana cara belajar

♠ Bagian 3: Keunggulan yang mana yang paling efektif? 

Keunggulan yang mana yang paling efektif? 

Which is the most effective learning modality?

Bagian 3/4

Sebenarnya cara belajar yang paling efektif tentunya adalah dengan keunggulan yang memang dimiliki anak.  Untuk memperluas penggunaan kekuatan belajar kita, kita dapat mengfungsikannya sebaik mungkin.  Asumsi bahwa cara orang lain lebih baik daripada cara kita hanya akan merugikan kita.

Dalam situasi tertentu benar bahwa orang dengan keunggulan belajar tertentu akan lebih susah beradaptasi daripada orang lain, tetapi tidak berarti bahwa keunggulan orang lain tersebut lebih baik dari yang lain.

Anak bertipe kinestetik lebih susah beradaptasi dengan sifat kelas yang membatasi ruang geraknya dibandingkan dengan anak bertipe visual atau auditori.  Walaupun jumlah anak perempuan dan anak laki-laki dengan tipe kinestetik adalah sama, (sekitar 15% dari total populasi) tetapi anak perempuan ternyata lebih dapat menyesuaikan diri di dalam kelas daripada anak laki-laki.  Ini adalah alasan mengapa lebih banyak anak laki-laki dengan tipe kinestetik mengalami kesulitan belajar pada tingkat sekolah dasar.  Terutama pada mata pelajaran yang membutuhkan kemampuan membaca dengan ekstensif, dimana hal ini lebih disukai oleh anak bertipe visual.  Sementara dalam pelajaran dengan gaya ceramah dan dalam pelajaran musik, anak auditori lebih menyukainya.  Pelajaran-pelajaran yang dilakukan dalam laboratorium dan pelajaran-pelajaran fisik, ternyata lebih disukai anak bertipe kinestetik.

Beranjak dewasa, anak cenderung menggunakan kekuatan belajarnya untuk pemilihan kariernya.  Individu kinestetik tertarik pada pekerjaan yang menjadikannya sebagai seorang pelaksana.  Mereka cenderung menghindari aktivitas di belakang meja, (yang lebih disukai orang visual) dan sangat baik menjadi ahli bedah, dokter gigi, mekanik dan profesi aktif yang lain.  Individu bertipe kinestetik yang berkarier sebagai guru akan cocok menjadi pelatih olahraga atau guru taman kanak-kanak.

Individu bertipe auditori lebih cocok pada posisi sales, pada bidang hukum, dan pekerjaan lain yang membutuhkan masukan dalam bentuk auditori dan interaksi dengan orang lain.

Sementara individu bertipe visual cenderung tertarik pada detil,dan dapat menjadi akuntan, guru, programer komputer, dll.

♠ Bagian 1: Bantu anak kita mengembangkan keunggulan gaya belajarnya

♠ Bagian 2: Belajar bagaimana cara belajar

♠ Bagian 4: Anak melakukan yang terbaik