Guru, Mengajar Apa atau Siapa?

Guru, Mengajar Apa atau Siapa?

Oleh: Anita Lie

Saat ini guru-guru yang beruntung sedang berlomba-lomba mengumpulkan portofolio. Hal itu dilakukan untuk memperoleh sertifikasi demi perolehan tunjangan profesi dan fungsional. Berbagai ekses—keikutsertaan dalam program pelatihan hanya demi sertifikat, manipulasi berkas, dan kolusi antara pemilik portofolio dan penilai—amat menodai profesi guru, bahkan melemparkan guru pada titik nadir dalam perjalanan profesinya.

Dalam refleksi menyambut Hari Guru, profil Ny Liem Khing Nio (89) dan Dibyohadiatmodjo (88), guru pada zaman Belanda, zaman Jepang, dan zaman Kemerdekaan yang ditulis dalam Pendidikan Manusia Indonesia, Tonny D Widiastono (editor) memberi contoh sosok guru yang pantang menyerah, tulus, ikhlas, terus berkarya dan berprestasi hebat.

Kedua sosok guru ini mengajar dan mendidik, sebagai bagian perjalanan dan panggilan hidup. Mereka memaknai tiap tindakan dan ucapan sebagai bagian perjalanan panjang untuk melayani anak manusia dalam sejarah peradaban. Para guru ini senantiasa bersinar di tengah gambaran suram dunia guru saat ini. Tertarik? Silakan baca selengkapnya

Anzac Day

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

“Old soldiers never die they just fade away”
(General Douglas MacArthur, 1951).

Anzac Day jatuh setiap tanggal 25 April untuk memperingati pendaratan pasukan tentara Australia dan New Zealand di Gallipoli, Turki tahun 1915 pada saat Perang Dunia I. Oleh karenanya Anzac Day ini diperingati oleh dua negara sekaligus, Ausie dan NZ. Anzac sendiri merupakan singkatan dari Australian and New Zealand Army Corps. Upacara peringatannya dilaksanakan pada saat subuh.. karena dalam sejarah disebutkan bahwa pasukan ini mencapai Gallipoli menjelang matahari terbit. Upacaranya disebut dengan Dawn Service. Kini makna Anzac Day sendiri telah meluas sebagai hari untuk memperingati semua tentara yang gugur di medan tugas.. Termasuk pada saat PD II, perang Vietnam, Korea, dsb.

Dawn Service di Darwin sini dilaksanakan di Esplanade, jam 6 pagi.. Ada pengibaran bendera dan peletakan karangan bunga untuk mengenang para tentara Ausie yang gugur waktu perang. Upacara dihadiri oleh banyak warga setempat, laki perempuan, tua muda, miskin kaya (halah!).  Selesai Dawn Service, acara berikutnya adalah parade.  Para pejuang dan veteran, tentara, polisi, boy scout dll. melakukan long march dengan seragam lengkap, segala tanda jasa. Termasuk ikut juga kuda, burung dan anjing dalam pasukan. Untuk para veteran senior cukup duduk di mobil. Barisan ini berparade sepanjang jalan protokol kota. Parade pun disambut dan disaksikan oleh para warga dengan antusias. Kami berkumpul di sepanjang ruas jalan kota dan memberikan tepuk tangan yang meriah buat para serdadu senior ini. Sungguh haru.

Lest we forget.

Simply Me!

Membaca adalah hidupku. Yang tercetak, yang tersirat, yang terbentang di depanku.  Penggemar Chelsea “The Blues”. Alunan suara Sting dan Phill Collins menghanyutkanku. Pengumpul perangko. Pencinta wayang. I don’t cook! I refuse! Nihon e iku zehi ikitai desu! JJL bareng ‘tim embret’. Dan, tiada hari tanpa medang-medang…. Apabolehbuat, inilah diriku