Nurturing The Sixth Sense In The Children

Resume Buku:

THE SIXTH SENSE OF CHILDREN: NURTURING YOUR CHILD’S INTUITIVE ABILITIES (Oleh Litany Burns)

Bab 5

MENGASAH INDRA KE ENAM SEORANG ANAK

Anak berbakat intuisi dapat dengan konsisten ‘membaca’ orang seperti sebuah buku.  Mereka mampu melihat hal-hal yang tidak dapat dilihat orang lain.  Mereka secara alami merasakan bimbingan spirit, malaikat, penjaganya dll.  Mereka dapat meramalkan kejadian di masa depan, dan dapat melakukan hal-hal melampaui kemampuan yang sebayanya. Beberapa anak, yang sangat berbakat, secara emosional, fisik dan psikologi belum terbentuk.  Mereka tidak mengerti mengapa orang lain tidak merasakan apa yang mereka rasakan.

Suatu teori dari Jung (dalam Matlin, 1999) yang penting dikemukakan adalah teori tipologi kepribadian.  Jung berpendapat bahwa manusia di dunia pada dasarnya dapat digolongkan ke dalam beberapa jenis saja bergantung pada kepribadiannya. Tipe kepribadian dibagi berdasarkan fungsinya dan berdasarkan reaksinya terhdap lingkungan.  Salah satu tipe kepribadian berdasarkan fungsinya adalah tipe kepribadian intuitif, artinya kepribadian yang sangat dipengaruhi oleh firasat atau perasaan kira-kira.  Orang dengan kepribadian seperti ini biasanya bersifat spontan.

(Intuitively Gifted Children)

Anak Berbakat Intuisi

Pada budaya primitif, anak dengan bakat intuisi yang istimewa diperlakukan dengan istemewa oleh orang-orang.  Mereka mendengarkan anak tersebut, mereka dihargai dan diperlakukan sebagai orang suci.  Mereka dijadikan pemimpin, tabib penyembuh di kelompok mereka.  Tidak ada orang yang menganggap mereka aneh, diacuhkan, dll.  Kebalikannya terjadi di komunitas Barat, dimana mereka ditakuti, dikutuk dan dibuang dari masyarakat, bahkan dibunuh dan dibakar.

Pada masyarakat Barat yang modern, anak dengan kemampuan ini.  Memang tidak dibunuh, tetapi saja masih ditakuti, dianggap aneh.  Anak dengan kemampuan indra ke-6 yang istimewa terlihat  aneh, gila atau sangat berbeda dengan teman sebayanya.

Anak dengan intuisi yang tinggi sebenarnya bukanlah anak yang aneh ataupun tidak seimbang.  Mereka adalah anak yang berbakat.  Bakat intuisinya dapat terlihat dengan jelas.  Kesalahpahaman yang terjadi membuat mereka melalui hidup dengan tersembunyi dari penerimaan, kecemerlangan dan kemampuan mereka yang sesungguhnya.

Anak-anak ini mempunyai sensitivitas emosi yang tidak biasa.  Mereka tahu mengapa orang menjadi sedih.  Mereka merasakan perasaan orang tanpa diberitahu. Mereka dapat mengetahui berbagai kejadian tanpa menyaksikannya.  Tanpa pengetahuan tentang persepsi mereka, membuat mereka menjadi bingung.  Mereka tidak dapat mengerti mengapa teman-teman mereka tidak bersikap baik terhadap mereka, tidak jujur tentang diri mereka. mereka merasa dipermalukan ketika anggota keluarga mentertawakan kemampuan mereka. mereka merasa tidak nyaman apabila orangtua menolak memunjukkan perasaan mereka dan mengacuhkan inspirasi kuat yang mereka peroleh.

Anak-anak ini biasanya pandai dan cemerlang dan kreatif melampaui usia mereka. sebab mereka melihat sesuatu melalui ‘mata jiwa dewasa’ mereka dan biasanya mereka diperlakukan sebagai orang dewasa oleh orang dewasa.  Mereka biasanya diberikan tanggung jawab yang lebih besar daripada usia mereka dan diharapkan melakukan sesuatu yang lebih daripada orang lain.  Anak-anak ini hidup dalam dunia sehari-hari dengan konflik antara mencoba hidup sesuai dengan harapan orang dewasa dan diterima oleh teman sebayanya.  Karenanya seringkali mereka merasa menderita karena terdapat perbedaan psikologi dan emosi mereka.

Apabila dikaitkan dengan definisi keberbakatan berdasarkan  pendapat Clark yang memandang dimensi kreatif sebagai ekspresi tertinggi keberbakatan, maka bisa dikatakan anak-anak ini adalah anak yang berbakat.  Apalagi mengingat konsep ini adalah integrasi dari semua fungsi dasar manusia, dimana salah satunya adalah kondisi intuisi yaitu kesadaran tertinggi yang secara paradoksal digali dari alam bawah sadar dan bukan dari rasio sadar, serta dikembangkan untuk mencapai pencerahan.

Orang dewasa seringkali bersandarkan pada intuisi anak berbakat ini dan menambahkan beban tanggung jawab secara emosional yang tinggi pada usia mereka yang masih begitu muda.

Di sekolah, anak berbakat intuisi mengalami dilema dimana meraka tidak dapat menyuarakan perasaan terdalam mereka dan takut sebab tidak ada orang yang mau memahami mereka. mereka dapat bereaksi terhadap ‘mood’ guru.  Mereka dapat juga ‘distracted’ oleh teman sekelasnya dan terpecah antara frustasi guru dan kebutuhan mereka untuk diterima.

Mereka kesulitan belajar melalui panghafalan fakta-fakta tanpa konsep, karena mereka belajar melalui perspektif, konseptualisasi, kebijaksanaan dan visualisasi langsung.  Hal ini merupakan konflik buat mereka karena di sekolah metode pelajaran didasarkan pada rangking intelegensi dan ujian pilihan berganda.

Anak-anak ini mungkin saja sangat cemerlang dan kreatif, tetapi persepsi dan cara penerimaannya tidak sesuai karena struktur belajar yang masih tradisional.  Kadangkala mereka merasa gagal dan menjadi pecundang dan mengembangkan citra diri yang rendah dan mengalami depresi di kelas dan di rumah.  Sehingga mereka sering terlihat malas, atau bahkan mencari reinforcement negatif.

Anak-anak menjadi sangat peka ketika mereka berbuat sesuatu yang mengecewakan keluarganya, guru atau temannya.  Mereka menderita dengan perasaannya, oleh ketidakmampuannya untuk membuat sesuatu yang lebih tinggi, konfirmasi terhadap perilaku tertentu, atau memberi atau mendapat perhatian. Tekanan dari dalam diri mereka sendiri membuat mereka berpikir dan bertindak bodoh dan berlawanan dengan perasaan dalam yang mereka tidak mengerti.  Mereka menderita ketika guru mereka salah menterjemahkan reaksi mereka terhadap hal-hal yang tidak dapat mereka kontrol.  Mereka tidak nyaman dengan teman-teman yang tidak menerima mereeka, tidak mengerti alasan mengapa mereka berbeda, terisolasi dan kesepian.  Sehingga mereka percaya bahwa memang ada yang salah dengan diri mereka dan kecewa terhadap diri mereka dan orang lain.

Pada abad 21 ini, sekolah dan komunitas di seluruh dunia merancang program yang cocok untuk memenuhi kebutuhan dan talelnta anak berbakat secara intelaktual, berbakat atletik dan kreatif.  Tetapi, hingga sekarang tidak ada program khusus yang mempelajari anak berbakat intuisi.

Ini bukan berarti bahwa setiap sekolah harus memisahkan kelas untuk anak berbakat intuisi dan membuat program pelajaran membaca aura, membaca pikiran dan lain-lain.  Kemampuan intuisi tidak harus eksklusif pada talenta lain.  Anak-anak pada kenyataannya secara alamiah menggabungkan bakat intuisi mereka dengan kemampuan lainnya.  Anak berbakat intelektual menggunakan intuisi mereka untuk memaham dan memecahkan masalah.  Anak berbakat atletik mempunyai intuisi tentang waktu dan mempunyai kemampuan untuk menemukan ‘daerah’ mana yang cocok dalam olahraga.  Anak kreatif menambahkan penglihatan atau inspirasi mereka pada talenta artistik mereka.  Seperti anak berbakat lainnya, anak berbakat intuisi memerlukan pengetahuan tentang talenta mereka, sehingga mereka dapat bangga dengan mereka sendiri dan menemukan tempatnya dan diterima di masyarakat.

Untuk mengatasi kesulitan proses pembelajaran di sekolah, mungkin dapat menggunakan kosep yang ditawarkan oleh Renzulli yaitu SEM (Schoolwide Enrichment Model), memberdayakan seluruh potensi yang ada di sekolah, meliputi guru, murid, orang tua, dan semua personal yang ada, pengayaan metode pembelajaran dengan modifikasi materi, proses, produk dan lingkungan (dalam Renzulli, 1985).

Orang dewasa perlu untuk mengenali dan mengasah intuisi anak dan mendorong mereka untuk membangun citra diri dan kesadaran diri tanpa rasa takut akan perasaan terisolasi.  Anak berbakat intuisi mempunyai sensitivitas yang tinggi memerlukan dorongan yang jujur yang mengatakan mereka positif dan tangible untuk menggunakan talenta mereka dalam kehidupan sehari-hari.  Mereka perlu dukungan dan perhatian dari orang-orang yang dekat dengan merekam mengetahui kemampuan mereka istimewa.  Dengarkan mereka dan biarkan mereka mempercayai intuisinya dan biarkan mereka melihat ketika mereka benar tanpa penilaian, akan membantu mereka untuk percaya pada diri mereka sendiri.

Berikut adalah berbagai cara untuk membantu anak berbakat intuisi mengasah kemampuannya dan mengembangkan citra diri yang positif terhadap dirinya:

  • Jangan paksa mereka untuk tampil, walaupun mereka mempunyai kemampuan yang istimewa. Secara alami anak-anak ini senang menunjukkan kemampuannya untuk membantu orang-orang yang mereka cintai tanpa paksaan.
  • Jangan memaksa mereka untuk meng-eksplorasi atau mengembangkan kemampuan indra ke enamnya apabila mereka tidak ingin melakukannya.
  • Menciptakan sebuah atmosfir penerimaan dimana anak merasa bebas untuk menggunakan intuisi mereka dan mereka akan merasa lebih mudah untuk mendiskusikan pengalamannya.
  • Menciptakan atau menumbuhkan talenta spesifik yang ada dalam sehari-hari akan membantu mereka mengembangkan potensi-potensi lain yang ada.
  • Tetap membuat komunikasi yang terbuka tentang apa saja, biar bagaimanapun anehnya hal tersebut.
  • Dorong kemandirian, dan percaya pada diri sendiri.
  • Mencari model orang dewasa yang juga dapat meng-integrasikan talenta mereka.
  • Dorong aktivitas yang kreatif. Anak-anak ini kreatif dalam berpikir dan mempunyai ketrampilan dan mengembangkan kreativitas mereka pada banyak bidang melalui seni, musik, tari, menulis, drama, sains dan interaksi sosial.

Prodigi

Prodigi dilihat dalam komunitas Barat sebagai anugrah, sesuatu yang menakutkan atau keduanya.  Mereka dipercaya bahwa talenta yang luar biasa pada anak prodigi sudah berkembang lengkap sebelum usia empat tahun.  Mereka sudah mampu menggunakan kemampuannya tersebut sejak lahir.  Contoh: Mozart, Chopin, Pascal, dll.

Karakteristik anak-anak ini antara lain: sensitif tinggi, self-defined, talenta dan proses berpikir yang maju, dewasa/matang dalam pengetahuannya, tapi bingung secara emosional, imaginatif dan cepat mengerti hal-hal baru, penuh rasa ingin tahu, terutama tentang bidang mereka, precocious dalam berbicara dan kosa kata.

Apabila dilihat dari karakteristik di atas, maka anak-anak ini pun ternyata mempunyai inteligensia intrapersonal berdasarkan pemikiran Gardner (dalam Armstrong, 2000) yang mana mengatakan bahwa anak-anak ini mengerti benar siapa dirinya, kemampuannya, dapat membuat perencanaan dan tujuan, bersifat persisten dan dapat belajar dari kesalahan yang mereka buat.  Kemudian pula dikatakan bahwa pada umumnya mereka itu sebenarnya tidak introvert/pemalu tetapi membutuhkan waktu tersendiri/khusus untuk refleksi diri, mereka peka terhadap perasaannya, peka terhadap mimpi-mimpi, mempunyai inner wisdom (kebijaksanaan dari dalam) yang terus ada sejak kecil hingga dewasa.

Dalam rangka untuk mengembangkan secara lengkap kemampuannya, anak-anak ini perlu kontak dengan teman sebaya, dorongan/dukungan, disiplin dan dorongan.  Mereka butuh penerimaan atas talenta spesial mereka tapi juga kebebasan untuk kegagalan.

 

(Physically, Mentally and Emotionally Challenged Children)

Intuisi pada Anak dengan Keterbatasan Fisik, Mental dan Emosional

Pada berbagai budaya, anak yang lahir dengan perbedaan fisik dan keterbatasan terlihat istimewa karena kemampuannya dan kekuatannya untuk hidup.  Keterbatasan fisik tidak membatasi kemampuan intuisi seorang anak.  Anak yang terlahir buta mengembangkan kemampuan penciuman, meraba dan mendengarkan tetapi juga clairvoyance dan medium.  Kemampuan intuisi ini membantu mereka untuk tahu arah dan perlindungan diri.  Mereka dapat merasakan ‘mood’ orang-orang sebelum mendekat pada mereka.

Anak yang tuna rungu lebih cepat merespon dan efektif sebab mereka sensitif tinggi pada gerakan dan aksi.  Mereka dapat membaca orang melebihi ekspresi fisik mereka. seperti ketika mereka membaca bahasa bibir atau bahasa tubuh, mereka juga merasakan hal-hal lain yang tidak terucapkan.  Mereka dapat merasakan bahaya mendekat.  Demikian pula anak-anak dengan keterbatasan lain.

Hanya saja di sekolah, untuk mengidentifikasi anak berbakat yang cacat tidaklah mudah.  Masalah  utamanya adalah bahwa keberbakatannya tidak terlihat oleh guru.  Mereka lebih dikenal karena kelemahannya dan bukan karena kekuatan atau kelebihannya.  Masalah lain adalah bahwa kecacatannya sendiri dapat menghalangi ungkapan bakat dan talentanya.  Misalnya, kebutaan, ketulian, dan beberapa ketidakmampuan belajar dapat mengakibatkan perkembangan yang lambat dan berpengaruh pada skor IQ yang terkesan rendah.

One thought on “Nurturing The Sixth Sense In The Children

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s